Language:

Search

Pengamatan Sosial : Orang India Jaya Diaspora, Orang Indonesia Bukit Al(haha)goritma

  • Share this:
post-title

Tulisan ini saya buat berdasar keresahan saya terhadap bukit algoritma gagasan dari Bapak Budiman Sudjatmiko atau yang memperkenalkan dirinya sebagai masbud, menurut wikipedia, beliau adalah politisi dari PDI-P Perjuangan dengan gagasan yang tengah berjalan yaitu UU Desa dan mendukung gerakan 4.0

Akhirnya terjawab sudah pertanyaan saya dari mana waktu debate pilpres 2019 dulu pak Jokowi membawa ide-ide 4.0, meskipun di 2019 memang sudah menjadi perhatian seluruh negara untuk bekerja dengan teknologi yang seringkali disebut revolusi industri ke-empat.

Kita belajar dulu dari sejarah silicon valley, ngutip dari Business Insider, kalau silicon Valley itu tadinya pusat Industri radio dan komunikasi, karena pertama memang deket laut, apa hubungannya ? komunikasi radio dengan pelabuuhan, dan disitulah salah satu stasiun Radio terlama di Amerika pertama berdiri.

Sampai akhirnya setelah perang dunia I dinas AL Amerika menjadikan area tersebut pusat industri penerbangan, otomatis, bakal banyak peneliti disana, gak lama produk komputer Hewlett Packard bikin pabrik disana, perang dunia II meletus pabrik transistor Shockley berdiri di sekitar Mountain View, yang rata-rata orang yang kerja disana lulusan Stanford University, yang masih di wilayah Silicon Valley.

Perang dunia II kelar, ganti perang dingin, di era 60an Intel, AMD, Nvidia juga bikin pabrik disana, gak lama juga orang-orang peneliti Stanford  bareng pemerintah sono, bikin proyek ARPANET, yang jadi cikal bakal internet, biasalah, terus ada media yang pelan-pelan ngeliput kalau di area itu, lalu bermunculan juga tuh sun microsystem, google, microsoft, wess banyak lagi deh, yang rata-rata banyak perusahaan teknologi yang rata-rata di Board of Directornya pasti ada orang India nya, and then sama pemerintah sono di lokalisir jadi seperti area terintegrasi.

Tapi apakah semua startup unicorn even decacorn atau perusahaan teknologi bermarkas di sono? jawabannya kagak, Motorola yang mantan CEO nya juga orang India, berkantor di Illinois, Offensive Security, Venmo (anak perusahaan paypal), Trello di New York, Moneygram di Texas apakah mereka tetap berjalan dengan baik ? secara operasional iya, sama halnya seperti Blibli yang kantornya di Gambir atau perusahaan startup lain yang udah masuk kategori unicorn, yaitu Ovo, berkantor di Lippo Karawaci Tangerang.

Maksud gue, untuk membangun dan membesarkan membudidayakan perusahan what-they-called 4.0 seperti para penghuni silicon valley, jangan tempatnya dulu disediakan, percuma, memangnya konsep serupa nggak tersedia sejauh ini? ada area terpadu, ruko-ruko di daerah BSD sana, dengan kantor yang sudah bundling internet murah, lalu deket dengan Purwadhika School tempat kursus teknologi atau kampus terkenal di sekitarnya, seperti SGU atau Prasetya Mulia apabila area startup membutuhkan riset bersama dengan kalangan akademisi.

Di PIK, menurut jargon 'Senin Harga Naik' di sana juga terdapat komplek ruko murah yang pernah ada perusahaan startup juga bermarkas disana, startup bidang ecommerce yang menjual barang impor dari Tiongkok khusus B2B dengan harga murah-rah-rah banget, see...apakah perusahaan startup ini menjadi booming ? Enggak, apakah karena faktor tempatnya ? nggak ah kalau menurut gue.

Sekarang, the Big Questions adalah, kenapa rata-rata petinggi perusahaan Decacorn dunia di isi orang India ? karena kalau di India, ada 3 profesi yang dipandang, seperti kalau di Indonesia adalah TNI, Polri dan PNS yang bisa membuat para pasukan 'rahim anget' menjadi tergila-gila, eh minimal pegawai BUMN. Yaitu kalau di India adalah, Engineer, Lawyer dan Dokter, selain itu ? Aib Keluarga, ini beneran asli.

source pict idntimes yang ini ngedit dewe

Maka, mati-matianlah mereka para pemuda Vrindavan ini belajar Matematika, ditambah lagi, konon pemerintah di sana itu mewajibkan semua warga negaranya kursus bahasa Inggris, dan memudahkan aksesnya sama kalau di Indonesia itu seperti anak-anak yang belajar ngaji, mudah, murah, gratis.

Lalu, kemudahan mereka sebagai negara bekas jajahan Inggris, sehingga bisa kuliah di Inggris dengan mudah, lebih mudah dari orang Indonesia yang bisa kuliah di Belanda, wow, komplit deh, akses belajar bahasanya gampang, dukungan moral dan sosialnya kuat, di tambah koneksi pejabat mereka ke negara-negara maju yang memudahkan mereka ke Inggris dan Amerika, ditambah lagi, mereka bergaul.

Ulang ya, disana, Engineer, Lawyer, Dokter adalah pekerjaan yang setara TNI Polri PNS kalau di Indonesia, sehingga mereka akan mati-matian, kursus bahasa Inggris disana mudah, mereka pandai bergaul, karena itu tadi, bahasa inggris mereka bagus, lalu, mereka solid sebagai orang-orang sesama mereka yang diaspora, dan.....akses kemudahannya merantau.

Gue akuin, gue juga banyak belajar dari orang India secara online, mengapa??? ya rata-rata kelas online itu yang ngisi dari mereka, dan mereka pun lucu, mereka dapat ilmu dari buku atau offline course gitu ya, bahan yang mereka pelajari, cuma di modif dikit, lalu di jadiin materi online course seperti di udemy gitu di jual lagi dong *LOL, dan source code yang jadi case study itu, mereka jual juga di codecanyon, hahaha gak rugi-rugi amat kan mereka??

Maksud gue gini saking banyaknya mereka yang ahli IT, gak cuma gue yang ngakuin ya, ternyata orang-orang yang dulu gue anggap hebat dan cerdas di forum-forum IT, ternyata eh ternyata juga ambil kursus di securitytube (vivek ramachandran) atau Lynda untuk upgrade skill dan instruktur-instruktur Lynda itu yang isi rata-rata orang Hindi.

Sampai ada jokes di silicon valley, kalau orang india mudik-pulang kampung, waaaah, bisa kacau itu perusahaan-perusahaan teknologi di sana. Dan gak menutup kemungkinan ya, kalau kedepannya mereka bikin product IT seperti di silicon valley sana, ntah bikin di Bangla kek atau di Vrindavan kek, pasti mereka akan berjaya, gue yakin itu.

Lalu, kenapa sih Indonesia nggak seperti itu aja? kenapa kok mentingin bikin infrastruktur dulu ? kita semua udah tau kok, kalau infrastruktur itu gak penting-penting amat, eh contoh ya facebook, yahoo, friendster, myspace, apple krowak itu aja dimulai dari garasi, termasuk Harley Davidson loh, dari bengkel kecil di garasi.

Kembangin aja dulu SDM nya, toh di jaman korona ini juga memaksa kita jadi bener-bener 4.0 apa-apa online meeting, apa-apa pakai file cloud, terus kalau terpaksa tatap muka, masuk gedung, pasti ada guest sistem yang integrated dengan face detector yang juga thermal face, yang bikin automation ini semua bukan karena infrastruktur atau regulasi pemerintah kok, big data big data apaan sih yang sering di gaung-gaungkan di campaign nya bukit algoritma itu? yang asli big data dan sedikit nyerempet pakar conspiracy theory nya ustadz Jerinx Al Bukhori Rohimahullah ini bukan vaccine ada biochip nya, bukan, tapi pedulilindungi yang membuat penggunanya merasa terlacak, that's real big data, itu baru 4.0 beneran, meskipun akhirnya itu sistem suka lemot.

Tulisan ini memang dari keresahan gue pribadi yang berasal, kenapa kita orang Indonesia kalah sama orang India soal pamor skill IT nya? pamor ya, bukan kualitas, kalau kualitas, kita nggak kalah gue pernah kok nemu orang India yang (*uhuk, maaf) masih lebih pinteran gue, rasanya jengkel aja, berbondong-bondonglah Maret April kemarin orang Bangla ke Indonesia, yang bikin kasus Covid varian Delta meledak di sini.

Karena emang selain di anggap jago, cekatan, kalau ngomong meyakinkan (inget mereka udah jago bahasa inggris sejak rata-rata masih SD) orang India mau dibayar murah, mereka pinter banget ngambil ati para petinggi perusahaan men, hahahaha, kalau kualitas dan etos kerja, beeuh orang Indonesia nggak kalah, meski hanya coretan gini doang, semoga bagi para buzzer twitter pendukung gagasan ini yang katanya 'Masa Depan Indonesia akan tersambung melalui bit-bit digital...' ah gak tau lah apa maksudnya sedikit terbuka pikirannya, sedikiiit aja, lagi juga aneh, yang begini aja di buzzerin -,-

Akhirul kalam, mohon maaf untuk warga vrindavan atau keturunannya, nggak bermaksud mendiskriditkan, tapi ini berdasar pengalaman, tapi bukan berarti mereka jelek hatinya, enggak,,,,,,meski gue pernah terlibat politik praktis sama mereka di kantor, hahaha, sorry ya, gue gak bermaksud membenci golongan, tapi ada yang baik juga kok.

Bayangin deh, kita ini di Indonesia udah jadi pasar terbesar bagi Tiongkok untuk barang-barang printilan gak jelas, sgala cutton bud ama tusuk gigi aja dari cungkuo, mobil wuling which is mereka lagi belajar bikin mobil juga masuk ke sini semuaaa, hp vivo, oppo realme, xiaomi, buanyak dah pokoknya, pasar terbaik bagi Jepun untuk otomotif dan barang elektronik, pasar terindah bagi rang yurop kategori Mobil ama produk-produk Militer, Fashion juga ding.

Gak ketinggalan YU ES E yang juga kalo jualan pelem atau teknologinya ke sini sini jugaaaa, eeeh masa soal tenaga kerja bidang engineer masih harus kalah sama warga vrindavan...haaahhhh?? udahlah buruh kasar proyek strategis Indonesia - Tiongkok rata-rata juga di isi orang Cungkuo...alamaaakkk terus Indonesia kebagian apaaa? kalo emang Indonesia the sleeping giant, kenapa gak lu sirem bensin nya pertamina aja kakinya terus tempelin tuh obat nyamuk bakar tiga roda di kakinyaaaaa, bangun kek banguuun....

Armin

Armin

IT Dev, SEO & Digital Marketing Specialist with 7+ years experience, Coder, Sys Admin, Designer, Blogger